Rabu, 03 Mei 2017

THE AWAKENING


          Aku suka sendirian. Mungkin aku adalah versi terburuk dari seorang introvert. Sudah setahun lebih aku mengurung diri di kamarku, jauh dari dunia luar. Kau pasti menganggapku aneh, namun kuharap kau bisa mengerti. Tidak ada satupun dari mereka, manusia, yang bisa menerimaku.


          Dalam kurun waktu satu tahun, tak banyak yang sudah kulakukan. Hanya menulis, menulis, dan menulis. Kau tahu, aku lumayan berbakat dalam hal ini. Sudah sekitar 8 buku yang telah aku rampungkan. Walau tak seorangpun membacanya, ini merupakan kepuasan sendiri bagiku. Aku merasa seperti dewa, yang dapat menciptakan tokoh dan takdirnya sekaligus, baik berakhir indah maupun tidak.


          Suatu malam, aku terbangun. Sebuah suara muncul dari pikiranku. Entah bagaimana persisnya, suaranya setengah berbisik. Sepertinya ia tertarik pada karya horror - thrillerku. Ia berkata, ia bisa menghidupkan tokoh di cerita tersebut.


          Hah, aku pasti sudah gila.


          Aku mencoba mengubah posisi tidurku. Aku pasti kelelahan, pikirku saat itu.


          "Jadi, kau tak percaya padaku?" suara itu muncul lagi.


          "Kau ingat, bahwa kau ingin menjadi dewa?" kelopak mataku terbuka. Aku mulai tertarik, namun langsung kugelengkan kepalaku, berharap aku masih waras.


          "Aku bisa mengabulkan permintaanmu." aku segera terduduk.


          "Bagaimana caranya?" tanyaku antusias. Sudah lama aku bermimpi memiliki duniaku sendiri, dengan tokoh ceritaku sebagai pelengkapnya.


          "Mudah saja."


          Dengan suara liciknya ia menjelaskan semuanya padaku. Tidak sulit, memang. Akhirnya, sebentar lagi, mimpiku jadi kenyataan!


          Malam berikutnya, aku memulai ritual itu. Kugambar lingkaran setan yang mungkin sudah biasa kau lihat di film - film, dengan lilin - lilin kecil yang mengelilinginya. Kuletakkan buku - bukuku di tengah lingkaran. Kugigit ibu jariku kuat - kuat hingga berdarah, kemudian kuteteskan tepat di atas tumpukan buku tersebut. Langkah terakhir, kurapalkan mantra yang kuhafalkan seharian tadi.


          Dan BOOM!!


          Buku - buku yang sedari tadi terdiam mulai berterbangan. Satu persatu terbuka, kemudian menyiratkan cahaya yang menyilaukan mata.


          Setelah beberapa detik, ketika cahaya itu mulai lenyap, mataku melebar. Kini, di depanku berdirilah makhluk - makhluk yang tak asing bagiku. Kumpulan werewolf, zombie, vampir, Scare Crow, Mummy, hingga Frankenstein. Tak henti - hentinya aku terkagum - kagum. Ia benar! Suara itu tidak berdusta! Aku tak sendirian lagi, mereka adalah teman sekaligus pengikutku; sang dewa!


          BRUAK!!


          Belum selesai aku berandai - andai, sebuah tangan besar tiba - tiba mendorongku dari belakang dengan kuat, hingga tubuhku menabrak dinding. Itu ulah Frankenstein.


          "Ap- Apa yang-"


          Kaki raksasa salah satu werewolf menginjak badanku yang bahkan belum sempat bangkit.


          KRTTK!!


          Ia menekan kakinya hingga tulang rusukku patah. Yang bisa kulakukan hanya meraung kesakitan.


          "Apa yang kau lakukan, Bodoh?! Akulah yang menciptakanmu, aku yang membuatmu hidup!" makiku padanya, yang dibalas tekanan kakinya yang semakin parah.


          Sesaat setelah Werewolf itu melepaskan kakinya dari tubuh remukku, zombie - zombie mulai mendekatiku.


          "MUNDUR!! AKU BILANG MUNDUR!!"


          Bukannya patuh, mereka justru dengan beringas menyergap tubuhku yang tak berdaya, dan mulai menggigitiku perlahan.


          Saat air mataku mengalir deras karena rasa sakit tak tertahankan ini, sesuatu muncul di depanku. Kepulan asap hitam, yang perlahan membentuk sosok mengerikan. Aku tak ingat pernah menciptakan dia di bukuku.


          "Siapa kau?!!" tanyaku, masih terbelenggu zombie - zombie sialan itu.


          "Kau masih belum mengenaliku?" ia balik bertanya, sambil tertawa keras khas penyihir tua. Suara itu. Suara yang berdengung di kepalaku!


          "KAU!! PEMBOHONG!! Kau yang menyebabkan semua ini?!!!! Kembalikan!! Kembalikan semua seperti semula, dasar iblis!!"


          "AAARGH!"


          Tak kusangka, gerombolan zombie itu sudah menggerogoti sebagian besar dagingku, bahkan mencapai tulangku.


          Dia yang melihat kejadian ini hanya tersenyum kecil,


          "Apa yang kau harapkan dariku? Itulah yang terjadi ketika kau membuat perjanjian dengan setan." tukasnya sembari membelakangi tubuhku yang hampir tak bernyawa.


          Sebelum semuanya gelap, hal terakhir yang kulihat adalah semua tokoh ceritaku berlutut padanya, pada sosok hitam itu, yang terus membicarakan sesuatu tentang 'penaklukkan bumi'.

Selasa, 02 Mei 2017

First Post❤

NEW FACEBOOK FRIEND


          Aku kecanduan. Hampir semalaman aku mengubek - ubek isi grup misteri di Facebook yang belum lama ini aku ikuti, 'Fond of Scary Stories'. Aku masuk grup ini atas saran temanku yang sudah menjadi member lama. Menurutnya, grup ini sangat menarik.


          "Kau akan menemukan banyak cerita misteri, riddle, bahkan gambar disturbing disini. Aku jamin, pecinta horor sepertimu akan ketagihan."


          Dan benar saja. Memang tidak setiap hari, namun jika waktuku senggang, aku selalu menyempatkan diri melihat postingan - postingan member grup yang kadang cukup membuatku merinding.


          Ada satu member yang menarik perhatianku. Bellamy nama akunnya, sama dengan salah satu karakter antagonis di sebuah anime. Dia selalu mengunggah creepypasta yang sesuai dengan seleraku. Yah, asal kalian tahu, jika dibandingkan dengan hal - hal berbau monster atau zombie, aku lebih menyukai cerita ber 'plot twist', yang sulit ditebak akhirnya. Dia sangat ajaib, hanya beberapa akhir cerita miliknya yang dapat kutebak dengan benar.



          Terdorong rasa kagum, aku mencoba menambahkannya ke daftar teman facebookku. Setelah berselang beberapa jam, dia menerima permintaanku. Padahal jam di ponselku menunjukkan pukul 2 dini hari. Langsung saja kukirimkan pesan padanya.


          'Belum tidur?'


          Tidak ada jawaban.


          'Ceritamu bagus (:'


          Nihil. Tetap tidak ada balasan darinya. Mungkinkah dia sudah tidur? Atau dia memang mengabaikanku? Entahlah. Mungkin ia tidak tertarik pada gadis yang memakai foto beruang lucu sebagai foto profil.


          Esoknya, ada pesan masuk ke Messenger-ku.


          'Terima kasih, kau sudah mengatakannya di kolom komentar (:'


          Wah, dia membalas! Tak kusangka, ia orang yang sopan.


          'Haha, aku bisa mengatakannya seribu kali jika aku mau. Jadi, kau benar - benar tertidur semalam?' balasku.


          'Tidak juga. Aku sedang bekerja saat kau mengirimkan pesan itu.'


          'Shift malam, nih? Pasti kau memiliki kantung mata yang mengerikan XD'


          'Haha, kau akan terkejut bila melihat wajahku.' balasnya. Memang, sama sepertiku, tidak ada penampakan wajahnya di setiap foto profilnya, hanya ilustrasi - ilustrasi tokoh anime.


          'Maksudmu, wajahmu terlalu menakutkan? XD'


          'Lol. Kau tahu Tom Cruise? Banyak temanku yang mengatakan bahwa aku ini adik kandungnya yang terpisah waktu kecil.' Orang ini lucu juga.


          Kami saling mengirim pesan, dari pagi hingga malam, setiap hari. Kami membicarakan banyak hal, dari film horor, cuaca, sampai hal pribadi. Milikku saja. Maksudku, ia tak pernah menceritakan kehidupannya. Setiap kali aku bertanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan. Aneh memang, namun aku tidak dapat memaksanya, bukan?


          Empat bulan berlalu. Aku tidak dapat membendung rasa penasaranku lagi.


          'Kau tetap tidak mau menceritakan apapun tentangmu padaku? ):' aku mencoba merayunya.


          'Tidak.'


          'Ini tidak adil. Padahal kau sudah tahu semua tentangku. Bukankah kita teman? Mana ada orang yang tidak tahu latar belakang temannya sendiri? ):' aku merajuk. Kebiasaanku ini selalu berhasil pada semua orang. Kuharap cara ini bekerja juga padanya.


          'Uhm, baiklah. Kuberi satu petunjuk.'


          Berhasil! Selang beberapa detik, dia mengirim foto seorang lelaki yang tidak asing. Ken. Wajahnya seperti Ken, mantan kekasihku. Astaga! Aku langsung menekan tombol 'Free Call'. Kemudian tersambung.


          "Halo, Ken? Jadi ini kau?! Ya ampun, aku tidak menyangka! Kau tahu, aku mengkhawatirkanmu. Kau sudah menghilang beberapa bulan yang lalu. Syukurlah-"


          "Ah, bukan.." seseorang menyela di ujung telepon yang lain.


          Deg.


          Suaranya berbeda. Suara Ken tidak seberat ini. Spontan kumatikan panggilan kami, dan aku termenung.


          Apa maksud semua ini?


          Pikiranku buyar saat mendengar notifikasi Messenger-ku berbunyi beberapa kali. Itu darinya.


          'Itu salah satu foto korbanku. Bukankah kau yang bertanya? Aku hanya ingin membagi cerita hidupku padamu.'


          'Bellamy mengirim foto.'


          'Kau lihat?'


          Aku bergidik. Kulempar ponselku ke ujung kamar. Bagaimana tidak? Foto yang ia kirim kali ini adalah foto Ken yang mengerikan. Ia terlihat terbujur kaku, dengan kepala yang bersimbah darah, seperti telah dipukul dengan martil. Kaki kanannya putus, digantung di atas perapian, tak jauh dari jasadnya.


          Kini, yang bisa kulakukan hanya meringkuk di atas kasur sambil mendengar ponselku berdering lagi. Ia terus mengirim pesan padaku.


          Sampai beberapa menit, deringnya berhenti. Aku agak lega, namun was - was juga.


          Aku mengumpulkan keberanianku, lantas bergegas mengambil ponsel yang kulempar tadi. Aku berniat memblokir Bellamy terkutuk itu, hingga tanganku yang gemetar tak sengaja membuka percakapan kami.


          Jantungku serasa berhenti ketika membacanya.


          'Kenapa kau tidak membalas pesanku?'


          'Kau marah? Kau menganggapku aneh?'


          'Kau sendiri yang memaksa, kenapa sekarang kau mengkhianatiku?'


          'Baiklah, kalau begitu maumu. Mungkin sudah saatnya kita bertemu dan saling menyapa.'


          'Kau lupa? Aku tahu semua tentangmu (:'

     
          'Bellamy mengirim foto'.


          Itu foto rumahku.