THE AWAKENING
Aku suka sendirian. Mungkin aku adalah versi terburuk dari seorang introvert. Sudah setahun lebih aku mengurung diri di kamarku, jauh dari dunia luar. Kau pasti menganggapku aneh, namun kuharap kau bisa mengerti. Tidak ada satupun dari mereka, manusia, yang bisa menerimaku.
Dalam kurun waktu satu tahun, tak banyak yang sudah kulakukan. Hanya menulis, menulis, dan menulis. Kau tahu, aku lumayan berbakat dalam hal ini. Sudah sekitar 8 buku yang telah aku rampungkan. Walau tak seorangpun membacanya, ini merupakan kepuasan sendiri bagiku. Aku merasa seperti dewa, yang dapat menciptakan tokoh dan takdirnya sekaligus, baik berakhir indah maupun tidak.
Suatu malam, aku terbangun. Sebuah suara muncul dari pikiranku. Entah bagaimana persisnya, suaranya setengah berbisik. Sepertinya ia tertarik pada karya horror - thrillerku. Ia berkata, ia bisa menghidupkan tokoh di cerita tersebut.
Hah, aku pasti sudah gila.
Aku mencoba mengubah posisi tidurku. Aku pasti kelelahan, pikirku saat itu.
"Jadi, kau tak percaya padaku?" suara itu muncul lagi.
"Kau ingat, bahwa kau ingin menjadi dewa?" kelopak mataku terbuka. Aku mulai tertarik, namun langsung kugelengkan kepalaku, berharap aku masih waras.
"Aku bisa mengabulkan permintaanmu." aku segera terduduk.
"Bagaimana caranya?" tanyaku antusias. Sudah lama aku bermimpi memiliki duniaku sendiri, dengan tokoh ceritaku sebagai pelengkapnya.
"Mudah saja."
Dengan suara liciknya ia menjelaskan semuanya padaku. Tidak sulit, memang. Akhirnya, sebentar lagi, mimpiku jadi kenyataan!
Malam berikutnya, aku memulai ritual itu. Kugambar lingkaran setan yang mungkin sudah biasa kau lihat di film - film, dengan lilin - lilin kecil yang mengelilinginya. Kuletakkan buku - bukuku di tengah lingkaran. Kugigit ibu jariku kuat - kuat hingga berdarah, kemudian kuteteskan tepat di atas tumpukan buku tersebut. Langkah terakhir, kurapalkan mantra yang kuhafalkan seharian tadi.
Dan BOOM!!
Buku - buku yang sedari tadi terdiam mulai berterbangan. Satu persatu terbuka, kemudian menyiratkan cahaya yang menyilaukan mata.
Setelah beberapa detik, ketika cahaya itu mulai lenyap, mataku melebar. Kini, di depanku berdirilah makhluk - makhluk yang tak asing bagiku. Kumpulan werewolf, zombie, vampir, Scare Crow, Mummy, hingga Frankenstein. Tak henti - hentinya aku terkagum - kagum. Ia benar! Suara itu tidak berdusta! Aku tak sendirian lagi, mereka adalah teman sekaligus pengikutku; sang dewa!
BRUAK!!
Belum selesai aku berandai - andai, sebuah tangan besar tiba - tiba mendorongku dari belakang dengan kuat, hingga tubuhku menabrak dinding. Itu ulah Frankenstein.
"Ap- Apa yang-"
Kaki raksasa salah satu werewolf menginjak badanku yang bahkan belum sempat bangkit.
KRTTK!!
Ia menekan kakinya hingga tulang rusukku patah. Yang bisa kulakukan hanya meraung kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, Bodoh?! Akulah yang menciptakanmu, aku yang membuatmu hidup!" makiku padanya, yang dibalas tekanan kakinya yang semakin parah.
Sesaat setelah Werewolf itu melepaskan kakinya dari tubuh remukku, zombie - zombie mulai mendekatiku.
"MUNDUR!! AKU BILANG MUNDUR!!"
Bukannya patuh, mereka justru dengan beringas menyergap tubuhku yang tak berdaya, dan mulai menggigitiku perlahan.
Saat air mataku mengalir deras karena rasa sakit tak tertahankan ini, sesuatu muncul di depanku. Kepulan asap hitam, yang perlahan membentuk sosok mengerikan. Aku tak ingat pernah menciptakan dia di bukuku.
"Siapa kau?!!" tanyaku, masih terbelenggu zombie - zombie sialan itu.
"Kau masih belum mengenaliku?" ia balik bertanya, sambil tertawa keras khas penyihir tua. Suara itu. Suara yang berdengung di kepalaku!
"KAU!! PEMBOHONG!! Kau yang menyebabkan semua ini?!!!! Kembalikan!! Kembalikan semua seperti semula, dasar iblis!!"
"AAARGH!"
Tak kusangka, gerombolan zombie itu sudah menggerogoti sebagian besar dagingku, bahkan mencapai tulangku.
Dia yang melihat kejadian ini hanya tersenyum kecil,
"Apa yang kau harapkan dariku? Itulah yang terjadi ketika kau membuat perjanjian dengan setan." tukasnya sembari membelakangi tubuhku yang hampir tak bernyawa.
Sebelum semuanya gelap, hal terakhir yang kulihat adalah semua tokoh ceritaku berlutut padanya, pada sosok hitam itu, yang terus membicarakan sesuatu tentang 'penaklukkan bumi'.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar